sekelumit tentang SMAku

Baru saja aku selesai membaca “bocah – bocah pirikan”. Akhirnya setelah berhari – hari membaca, tinggal pergi, membaca, pergi lagi, akhirnya hari ini selesai. Sangat bersyukur aku bisa menjadi bagian dari keluarga besar SMA Taruna Nusantara. Sebelumnya, tak pernah terbayangkan aku bisa menjadi alumni dari SMA Taruna Nusantara, meski setiap pagi sejak aku memasuki usia 2 tahun, dan bapak diterima menjadi salah satu guru di SMA Taruna Nusantara, barisan sepasukan orang – orang plontos dengan derap langkah yang seirama adalah pemandangan sehari – hariku.

Pada masa kecilku, seingatku, tak pernah ada yang menceritakan padaku betapa hebatnya SMA Taruna Nusantara ini. Pada setiap malam minggu, dimana abang – abang sering bermain ke rumahku, cerita yang kudengar hanya seputar hantu – hantu penunggu SMA ini. Dengan antusiasnya abang – abang itu menceritakan “seorang” wanita yang ada di garasi, tengkorak yang terlihat di dekat Prasasti Soeharto, makhluk tinggi besar tanpa mata yang ada di bawah tangga di gedung kelas 1, hingga siapa abang yang tiba – tiba “dipindahkan” tidurnya ke ruang kelas. Meski begitu, rasanya aku sangat menikmati setiap kunjungan abang – abang, juga kakak – kakak (mulai angkatan 7 tentunya), terutama bila acara kelas (karena yang datang pasti lebih banyak). Begitu ramai, begitu hangat, begitu bersahabat.

Ketika aku beranjak remaja, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu, les matematika di pak A, les bahasa inggris di bu B. Hingga aku tak menyadari kunjungan – kunjungan di malam minggu itu tak pernah ada lagi. Rasanya sepi. Bahkan berjalan dari garasi hingga pertigaan dekat rumahku, rasanya menjadi sebuah ancaman tersendiri. Bagaimana tidak, tak jarang tiba – tiba abang – abang yang berada di dalam graha memanggilku, bersorak – sorak menggodaku (PD abiiiiiiiis :p). Yang tadinya hanya beberapa orang, dalam hitungan detik langsung menjadi banyak.

“woy, anaknya Pak Goris lewaaaat” lalu pecahlah tawa – tawa mereka

“ABG dong, alias Anak Bapak Goris” yang lain menimpali, lalu tertawa kembali. Aku pun langsung berlari atau mengayuh sepedaku lebih kencang lagi. Hahahahaha……..

Setelah lulus SMP, aku bingung mau melanjutkan kemana. Pilihan awal waktu itu hanya 2, SMA Taruna Nusantara atau SMA N 1 Magelang. Alasannya sungguh sederhana, karena aku adalah anak perempuan satu – satunya, dengan masuk ke salah satu sekolah tersebut orang tuaku akan lebih mudah mengawasiku (mama adalah guru di SMA N 1 Magelang). Pilihan memang lebih mengarah ke SMA Taruna Nusantara. Orang tuaku mulai bercerita tentang kehebatan SMA Taruna Nusantara dalam mendidik siswanya. Bapak mulai bercerita, bagaimana eratnya persaudaraan alumni SMA Taruna Nusantara ini, bagaimana abang A akhirnya diterima di universitas A, kakak B di universitas B, hingga abang C sudah bekerja di perusahaan asing, dan sebagainya. Berbagai macam prestasi anak didiknya, diceritakan bapak dengan sangat bangga. Kata mama, masuk SMA Taruna Nusantara berarti berinvestasi bagi masa depan cemerlang. Aku tidak begitu paham akan maksud perkataan mama ketika itu, namun aku menurut saja untuk mendaftar ke SMA Taruna Nusantara. Singkat cerita, diterimalah aku di SMA Taruna Nusantara.

Selama di SMA rasanya tak ada cerita yang jauh berbeda dari siswa – siswi lain. Masa PDK, UH, Her, PA, escape, acara kelas, acara kamar, punya abang/kakak absen, kakak kamar, dst. Baru setelah menjadi alumni, kusadari aku menjadi pribadi yang lebih mandiri, lebih tegar, lebih pantang menyerah. Rasanya, inilah yang mama maksud dengan berinvestasi bagi masa depan cemerlang, sebuah pribadi yang diharapkan mampu survive untuk meraih masa depannya. Rasanya hidup ini pun menjadi lebih terarah ketika kalimat “…dan dimanapun berada memberikan karya terbaik bagi masyarakat, bangsa, Negara, dan dunia” telah mendarah daging. Memang ada sebuah beban tersendiri ketika menjadi alumni SMA Taruna Nusantara, tapi semoga beban itu dapat terus kupandang sebagai sebuah tantangan.

Momen 20 tahun SMA Taruna Nusantara beberapa minggu yang lalu, rasanya telah mampu mengembalikan semangatku untuk kembali berusaha “memberikan karya terbaik bagi masyarakat, bangsa, Negara, dan dunia”. Terimakasih kepada rekan – rekan alumni yang telah bersedia berbagi cerita tentang perjuangan – perjuangan meraih masa depan, tentang semangat yang tak boleh padam, dan tentang jiwa nasionalisme. Terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam terciptanya tulisan ini 🙂

-04.3971-

Advertisements

About duniasibawel

an extraordinary girl who trying to be the best ones, at least for herself...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: