Menepi di Lembah Tidar

Sepertinya kita memang tidak perlu bertemu lagi.

Kalimat itu kukirimkan pada dia pada malam ketika aku sampai di Lembah Tidar. Pada malam setelah aku memacu motorku untuk meninggalkan dia. Pada malam setelah dibuat basah olehnya.

Ok. Maaf tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu. Balasnya

Kami pun tak pernah bertemu lagi. Untuk sekedar berkirim sms kosong pun tidak lagi. Aku pun menepi di Lembah Tidar. Berlari dari dia

***

Suatu siang dalam pelarianku, dini, salah seorang sahabatku mengirim sms

Aku mendukungmu. Tak usahlah bertemu dengan dia lagi. Kabari aku kalau ada masalah

Sms itu ku “iya”kan saja, meski ku tahu Dini tidak akan bisa selalu ada ketika aku butuh. Untuk sekedar membalas sms saja, ia seringkali tidak sempat. Tak apalah, paling tidak Dini masih peduli padaku. Metta, sahabat yang lain, ikut – ikutan mengirimiku sms

Semangat!!! Cowok bukan hanya dia. Jangan pernah berpikir semua cowok sama dengan dia. Masih banyak cowok lain yang lebih baik dari dia.

Lagi – lagi ku“iya”kan saja sms sahabatku itu. Bagaimana tidak, aku tak punya pilihan meski kadang ingin kubertanya padanya,”Mana, Me, cowok lain yang kamu bilang masih banyak itu?  Mana pula yang kamu bilang lebih baik dari dia?”

Kuyakin pertanyaan itu hanya akan dibalas Metta dengan ceramah tentang waktu dan kesabaran yang benar – benar membuat kesabaranku diuji. Hmf. Membosankan.

Pada hari yang sama itu pula, Vitri, sahabatku yang lain lagi, tak mau kalah. Vitri menulis

Sudahlah, dia bukan lelaki yang baik. Let him go. Aku tidak suka dengan perasaan ketika bertemu dengan dia. Sangat tidak nyaman ketika aku harus berhadapan dengan orang yang telah menyakiti sahabatku

Sms terakhir ini tak kutanggapi. I’m speechless. Benar – benar tidak tahu bagaimana harus membalasnya ketika ternyata, polah tingkahku menyusahkan orang – orang disekitarku.

Well, aku, metta, dini, dan vitri memang bersahabat sejak SMA. Satu kebiasaan kami adalah menceritakan kepada yang lain apabila salah satu dari kami sedang membutuhkan dukungan, dan, ya, saat itu akulah yang membutuhkan dukungan. Seingatku aku hanya bercerita pada Metta, tapi tak kagetlah aku bila dini dan vitri pun langsung tahu apa yang sedang kualami.

Sms ketiga sahabatku pada hari itu menggerakkanku untuk benar – benar berhenti. Kembali ke jalan yang lurus. Bertobat.

Keesokan harinya aku mulai berdoa kembali setelah berbulan – bulan tak pernah berdoa karena merasa sangat berdosa. Berdosa telah bercinta dengan dia, tapi tak ingin dihakimi.

Bukan hal yang mudah untuk berdoa kembali ketika dalam setiap pejaman mataku, aku melihat dia. Dalam keheninganku, bayangan kami bercinta terus berputar dalam otakku. Rasanya begitu nyata. Sentuhannya, aroma tubuhnya. Hingga aku berkeringat dibuatnya.

Dalam setiap keheningan itu, aku lelah. Lelah karena harus mengerahkan banyak tenaga untuk menghalau bayangan itu, lagi dan lagi. Lelah karena banyak tenaga harus kukerahkan untuk memfokuskan diri pada doa – doaku. Lelah sudah ku rasa ketika selama berhari – hari kucoba merelakan tapi malah semakin mengingatnya, semakin menginginkannya. Rasanya seperti membohongi diri sendiri. Aku lelah

***

Aku pun berlari. Mencoba tak peduli pada semua nasihat sahabat – sahabatku. Aku memberanikan diri untuk menghubunginya.

“selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” begitu sapanya ketika aku menelponnya

“aku belum mendapatkan menstruasiku bulan ini” kataku langsung ke inti permasalahan

“kok bisa?sama siapa?”

“kamu”, dan pulsaku habis. Great! Tepat ketika aku mengharap mengetahui reaksinya. Dia pun tak balas menelpon atau bahkan sekedar mengirim sms, dan aku tak lagi punya keberanian untuk berbicara padanya.

Aku kembali menepi di Lembah Tidar. Kembali bertekun dalam doa. Kali ini lebih sungguh – sungguh dalam berdoa. Lebih berharap.

***

Beberapa hari setelah itu, dia menelponku

“benarkah kau tidak pernah melakukannya dengan orang lain?”, terdengar kecemasan dalam kalimatnya

“tidak”, jawabku mantap

“kalau gitu siap – siap beli perlengkapan bayi ya” katanya kemudian terbahak – bahak

“ah, tak perlu. Aku sudah mendapatkan menstruasiku bulan ini”

“yaaaaah…..”, kali ini terdengar kekecewaan

“aku kehilangan anakku”, lanjutnya kemudian terpingkal – pingkal

“dasar gila!”

“ya sudah. Aku harus kembali bekerja. Aku akan mengunjungimu ketika senggang”

Sambungan telpon pun terputus. Cerita tentang dia pun kuputuskan sampai disini saja karena rasanya harapan akan pencapaian masa depan pun kembali menghampiriku, tak ingin aku diganggu lagi olehnya. Pertobatanku terus berlanjut. Semoga godaan tak datang secepat dia masuk dan keluar dari hidupku.

***

Aku kembali bercerita pada sahabatku, kini pada mereka bertiga, metta dini dan vitri. Aku bercerita bahwa aku telah melanggar janjiku pada mereka untuk tidak menghubungi dia lagi. Vitri terbahak – bahak ketika mendengar ceritaku yang begitu bodoh karena terlalu khawatir ketika menstruasiku belum datang juga. Dini lebih serius menanggapi ceritaku, dia benar – benar khawatir akan terjadi hal – hal yang tidak kami inginkan padaku, sedangkan Metta justru berbinar – binar mentapku sembari berkata, “gw salut sama lo,neng, menurut gw lo hebat, berani mengambil keputusan dengan mengikuti kata hati lo”

*penggunaan nama aseli memang disengaja untuk menimbulkan efek nyata karena lagi – lagi cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan cerita mungkin cerita ini menjadi benar adanya :p

Advertisements

About duniasibawel

an extraordinary girl who trying to be the best ones, at least for herself...

2 responses to “Menepi di Lembah Tidar

  1. bagus ceritanya….
    kirain beneran 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: