Si Gendut

“weekend besok kutelpon ya, deal?”

“deal”

“sip”

Janji itu terucap minggu lalu. Artinya seharusnya dia, sesuai dengan janjinya, telah menelponku weekend kemarin. Artinya seharusnya aku, sesuai dengan kebiasaanku, telah mengumandangkan pada dunia betapa senangnya aku. Tapi janji itu tak terpenuhi, dan aku tak tahu harus bagaimana.

***

Si pembuat janji itu, sebut saja dia si gendut, bukan orang baru dalam hidupku. Aku mengenalnya 6 tahun silam di lembah Tidar. Di tempat aku menuntut ilmu, tempat aku menghabiskan masa – masa mudaku, di tempat yang disebut SMA. Sejak kelas 1 aku sudah mengetahui keberadaannya karena dia sangat terkenal di angkatan kami. Sayangnya bukan terkenal sebagai siswa dengan nilai terbaik, bukan pula siswa dengan banyak prestasi, tapi sebagai escaper sejati, serta bandar komik. Hahahahaha…..

Kedekatan kami dimulai di kelas 3. Kami dipertemukan dalam kelas yang sama. Kelas 3 IA 5, seingatku. Kami juga masuk dalam kelas special treatment yang sama. Kelas special treatment ato biasa kami singkat ST adalah kelas yang dibentuk untuk mempersiapkan para siswa menghadapi Ujian Akhir Nasional. Kelas tersebut berbeda dengan kelas pagi hari, kelas ini dimulai pada pukul 16.30 dan digolongkan berdasarkan kemampuan otak. Aku lupa aku dan dia masuk kelas apa, yang jelas kelas rendahan, berisi anak – anak yang kemampuan otaknya pas – pasan (kalo tidak mau disebut bodoh :p)

“jangan lupa, ntar take in tempat buat gw, disebelah lo ya”

Kalimat itu selalu kudengar selepas jam kegiatan belajar mengajar siang hari. Dia sering sekali terlambat sehingga aku selalu diminta untuk menyisakan satu tempat disebelahku untuknya. Tak jarang anak satu itu escape dari ST. Alasannya selalu saja ketiduran.

Yah, menjadi kelas tiga memang bukan hal yang bisa disambut dengan bersenang – senang karena ada tanggungjawab yang kurasa cukup berat, yaitu mempertanggungjawabkan proses belajar selama tiga tahun di Ujian Akhir Nasional. Wajar saja bila kemudian kami, kelas tiga, harus belajar lebih keras lagi, apalagi bagi orang – orang yang sepertiku ini, yang tak pernah belajar ketika kelas satu dan dua. Menjadi maklum juga, ketika banyak yang menjadi begitu kelelahan setelah begadang untuk belajar. Namun untuk kasus si gendut, aku tak yakin dia ketiduran akibat kelelahan begadang untuk belajar. Aku lebih yakin dia kelelahan karena baca komik ataupun main game hingga larut malam :p

Well, begitulah, dari kelas formal dan kelas ST kami menjadi dekat. Kemudian, kedekatan ini bertambah ketika dia memilih untuk belajar ke negeri Belanda dan aku memilih untuk ke kota Gudeg dan menuntut ilmu di sebuah universitas swasta. Lalu bagaimana bisa kami semakin dekat,ketika jarak kami semakin terbentang, lebar?

Di universitasku ada seorang dosen yang menyebut dirinya Dosen Gila. Dosen Gila ini lulusan SMA di Lembah Tidar, sama seperti aku dan si gendut, dan karena beberapa alasan aku pun dekat dengan Dosen Gila itu. Pada tahun 2007, saat aku dan di gendut memasuki dunia perkuliahan, Dosen Gila pun sedang menuntut ilmu di negeri Belanda. Karena kedekatan alumni SMA di Lembah Tidar itu, akhirnya bertemulah si gendut dengan dosen gila. Mereka semakin dekat, ketika si gendut menjadikan dosen gila ini gurunya. Singkat cerita, jadilah kami bertiga dekat.

Beberapa kali ketika si gendut pulang,dia selalu menyempatkan diri kembali ke Lembah Tidar, dan selalu memintaku untuk menemaninya. Semakin sering aku bersamanya, semakin sering aku berkeluh kesah padanya, aku menemukan dia sebagai seorang sahabat yang cukup menyenangkan untuk bertukar pikiran.

Beberapa bulan yang lalu, si gendut menanyakan kabarku di saat aku sedang membenahi diriku, memulihkan luka – lukaku, dan mengumpulkan serpihan – serpihan hatiku.

“ndut, kapan lo balik?gw nitip hot and hadsome guy dong” kataku dalam obrolan kami kala itu

“wah, ini ceritanya gw dijadiin panitia, ya? Ok lah, tapi gw daftar ya” katanya

“enak ajah, kagak ada. Panitia g boleh ikutan daftar”

Dan sejak saat itu, aku mulai tak mengerti. Apakah dia serius? Perhatiannya padaku bertambah, dia pun tak lagi malu – malu mempraktekan jurus gombal,yang katanya diajarkan oleh dosen gila,padaku. Aku pun mulai tak mengerti diriku. Aku mulai menikmati rayuan – rayuan gombalnya, aku pun seolah memberinya harapan, meski aku tau semua itu hanya kepalsuan belaka. Tapi bahwa aku menyayangi dia, aku akui itu benar adanya, namun rasa sayang itu tak lebih dari rasa sayang seseorang pada sahabatnya.

Namun, jika ini hanya rasa sayang seseorang kepada sahabatnya, kenapa rasanya aku cemburu pada orang yang pernah dicintainya? Pada orang yang selalu mengisi wall di facebooknya? Pada orang yang rasanya lebih mengenal dirinya? Mengapa pula aku begitu menantikan teleponnya, menantikan ia memenuhi janjinya? Dan mengapa sekarang aku merasa sangat kecewa ketika janji itu tak terpenuhi?

Sebenarnya apa ini?

Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah apa yang aku cari dari dia? Padahal aku tau aku tak mungkin bisa bersamanya menurut aturan yang diterapkan dalam keluargaku. Rasanya aku hanya semakin menyakitinya dengan semakin banyak memberinya asa. Seolah aku menjadikan si gendut sebagai pelarianku, tidakkah aku menjadi orang yang begitu kejam? Tapi bagaimana cara untuk menghentikannya? Rasanya aku pun tak bisa memungkiri kebahagiaan, dan kenyamanan saat bersamanya.

Suatu kali dosen gila berkata, “sudahlah, kau jadian saja dengan si gendut”

Entah apa yang menjadikan dosen gila berkata begitu. Kuakui memang saat itu aku mengatakan pada dosen gila bahwa aku merindukan si gendut, tapi aku tak percaya hanya dengan satu pernyataan saja, dosen gila bisa langsung menyarankan hal itu.

Beberapa hari yang lalu, si gendut mengatakan tak bisa sering – sering online karena perkuliahannya di negeri paman Sam sangat menyita waktu, tenaga serta pikirannya. Selain itu, dia ingin berusaha menyibukkan diri agar tak selalu memikirkanku

“hmmm….benarkah yang kau katakan itu,ndut?” batinku kala itu, dan sejak saat itu, aku berusaha untuk mengurangi intensitasku mengirimi kata – kata rinduku pada si gendut

“Andai pun itu benar,ndut, sebegitu jahatnya kah aku padamu? Menyiksamu hingga membuatmu harus berusaha sedemikian keras untuk mengalihkan pikiranmu dariku? Ndut, jika memang kau ingin mengakhiri ini, katakanlah. Aku pun akan berusaha untuk melupakanmu”

***

*cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan cerita mungkin cerita ini menjadi benar adanya….hahahahahhahaha……

Advertisements

About duniasibawel

an extraordinary girl who trying to be the best ones, at least for herself...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: