100% = 10%

Sebuah percakapan dengan seorang teman di laboratorium pada suatu siang, dan hujan menambah kenikmatan percakapan kami.

Topik percakapan tak jauh dari “proses memahami diri dan orang2 sekitar”

mulai dari mengapa si ini bisa begini, mengapa aku bisa begitu, de el el, dan sampai pada topik cinta. Well, of course, topik itu tak akan terlewat jika dua perempuan kembali berbincang setelah lama sibuk dengan dunia masing – masing.

“satu hal yang perlu kau ingat, sebuah hubungan kadang tak perlu nama”

aku terkesiap, lalu mencoba menyanggah, “tapi kan njuk rasane ada dan tiada,mak. mana bisa kayak gitu?”

“hey, yang namanya perasaan kalo udah ada ya akan ada terus. ibarat kamu memberiku sebuah botol, mau nanti kita marahan, musuhan atau apapun hubungan kita selanjutnya, botol itu kan tetep ada di aku dan terserah aku mau ngisi atau kubiarkan kosong.”

here we go,

anak yang kuliah di jurusan psikologi dan filsafat itu emang canggih mencari perumpamaan.

“iya sih,mak,” aku menyerah saja pada kepandaiannya itu.

well, mak. ngomong2 tentang perasaan, aku rasanya masih belum bisa memberikan unconditional love,” lanjutku.

“jelas! Ingat hasil tesmu tadi? Kamu masih berkonflik dengan dirimu, jadi wajar kalo kamu belum bisa memberikan unconditional love itu,” kata si emak, yang tentu bukan nama sebenarnya, yang sebelumnya kumintai tolong untuk “membaca” hasil tes kepribadianku.

“iya, mak, dan rasanya capek, aku merasa sudah memberi tapi nggak dapet reward,” keluhku.

“kakakku pernah bilang, ketika aku bertemu dengan seseorang, dia memiliki cinta 100% dan aku juga memiliki cinta 100%. Saat kami menjalin hubungan, kami sama – sama memberikan 100% itu kepada satu sama lain. Tapi masalahnya adalah 100% dia itu sama dengan 10% ku, jadi jika ingin imbang dia harus memberikan 10 kali lipat padaku. dan pertanyaannya mampukah dia?”

aku manggut – manggut mendengarkan penjelasan si emak. Tampaknya keluarga si emak ini tak bedanya dengan kumpulan orang – orang bijak.

“jadi, intinya adalah kadarnya berbeda. Saranku pikirkan baik – baik, jgn terlalu cepat mengambil keputusan tapi juga jangan terlalu lama” kata emak menutup penjelasan panjangnya.

so, haruskah aku membuat list?”

“yup. buat list tentang kebutuhanmu. jadikan kamu center – nya, bukan dia,” katanya tegas.

percakapan tersebut masih juga terngiang dalam benakku, berjam – jam setelah percakapan itu terjadi

seratus persen = sepuluh persen

otakku berulang kali menggumamkan kalimat tersebut.

Advertisements

About duniasibawel

an extraordinary girl who trying to be the best ones, at least for herself...

5 responses to “100% = 10%

  1. hmm bener juga yah… kadang standar kita beda dgn standar org lain…

  2. mbok aku di tes nul!!! hatiku bimbang!! hahahahaha

  3. sepertinya perlu diskon gede2an untuk ini eh itu 😀 sepertinya loh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: